Tahapan Perkembangan Kognitif Anak Usia Dini - Teori, Hambatan, & Cara Mengatasinya

06 Januari 2021
tahapan perkembangan kognitif anak usia dini

Perkembangan kognitif anak memiliki tahapan yang berbeda-beda antara satu anak dengan yang lainnya. Hal ini dikarenakan proses tersebut melibatkan berbagai langkah pemahaman informasi, pemecahan masalah, daya ingat, hingga pengambilan keputusan oleh masing-masing anak.

Apa itu perkembangan kognitif? Perkembangan kognitif adalah tahapan kemampuan anak untuk terus belajar serta berkembang sesuai usianya. Berdasarkan tahap perkembangan anak menurut Piaget, terdapat 4 tahapan perkembangan anak usia dini.

1. Perkembangan Sensorimotor di Usia 0 - 2 Tahun

Tahapan pertama ini terdiri dari 4 level yang berbeda. Level pertama adalah berkaitan dengan aksi dan persepsi. Di mana terjadi respons sosial pertama kali terjadi. Level ini terjadi di usia 2 sampai 4 bulan.

Kemudian, level kedua terjadi di usia 7–8 bulan. Pada level ini si buah hati akan melakukan pembedaan dan koordinasi makna dan suatu aksi.. Menginjak usia 11-13 bulan, sensorimotor akan menunjukkan beberapa aksi sebagai bukti perkembangan kognitif anak di usia dini.

Anak akan mulai mempelajari lokasi akan ciri sebuah subjek dan orang dengan satu dua kata saja. Pada tahapan terakhir di usia 18-24 bulan, anak akan mulai menyerap kata untuk menyimbolkan objek dan orang yang terjadi.

2. Tahapan Praoperasional Di Usia 2 Hingga 7 Tahun

Tahapan kedua ini memberikan perubahan yang cukup signifikan. Daya tangkap anak jauh lebih baik. Gerak sensorimotor dan kemampuan berhitung bisa diasah di lingkungan sekolah. Bahkan anak sudah mampu meniru tindakan orang dewasa.

3. Tahapan Konkret Operasional Di Usia 7 Hingga 11 Tahun

Menginjak usia ini, anak akan mulai berpikir secara abstrak, logika, mencari solusi akan sebuah tugas, dan memberi ide -ide yang mereka pikirkan.

4. Tahapan Formal Operasional Di Usia 12 Hingga Ke Atas

Di tahap ini pemikiran abstrak mulai terkoordinasi dengan solusi dan konsep personalitas yang lebih dinamis. Memasuki usia remaja, mereka mulai membawa pemikiran sebab-akibat dari berbagai sisi kehidupan seperti moral, sosial, politis, dll.

Baca juga: 8 Faktor yang Mempengaruhi Tumbuh Kembang Anak dan Cara Mendeteksinya

Hambatan yang Mengganggu Perkembangan kognitif Anak

Teori dari Piaget mengatakan bahwa setiap perkembangan dan perubahan tersebut tidak bisa dipahami secara spesifik. Hal tersebut dikarenakan adanya perbedaan dan kemampuan pada setiap anak. Di sinilah informasi tersebut berkaitan dengan risiko atau faktor yang menghambat perkembangan.

Menurut Jurnal yang ditulis oleh Nicole D.ford dan Aryeh D.Stein, terdapat beberapa faktor penyebab ketidakmampuan untuk mencapai potensi perkembangan anak sedini mungkin. Studi yang dilakukan di Afrika tersebut menggaris bawahi bahwa nutrisi, lingkungan, interaksi anak dan orang tua menjadi faktor hambatan utama.

Namun, studi oleh John.H Flavell pada tahun 1981 ikut memberikan informasi akan hambatan perkembangan kognitif anak dari kecil. Yakni akan perbedaan level kedewasaan, kompleksitas, dan gaya berpikir yang memiliki variabel sangat luas. Variabel ini pula yang membuat satu anak dan lainya berbeda.

Dalam penelitian tersebut juga menyorot kepentingan untuk mempertimbangkan akan heterogenitas dan homogenitas seorang anak. Di sini, daya pikir anak akan berbeda yang mungkin saja bersifat keturunan, seperti bakat dan minat. Hal tersebut juga berkaitan dengan edukasi, latar belakang, budaya, dan lingkungan anak.

Baca juga: Mengenal Status Gizi Anak dan Cara Menilainya

Cara Memaksimalkan Perkembangan Kognitif Anak

Terlepas dari hambatan tersebut, bukan berarti para orang tua tidak bisa memaksimalkan perkembangan kognitif si buah hati. Perkembangan kognitif bisa diperbaiki dengan menerapkan disiplin sejak usia dini dan akan terbawa hingga dewasa.

Berkaitan dengan hal tersebut, Realfoodfam juga bisa membantu merancang aktivitas belajar yang efektif. Beberapa contoh untuk mengembangkan skill psikomotorik dan kognitif anak usia dini.

  • Bermain petak umpet akan mengajarkan cara mengenal lokasi dan menunjang perkembangan motorik
  • Bermain lego akan membantu mengembangkan kreativitas anak, begitu pula dengan arsitektur dan bidang bangunan.
  • Melukis dapat melatih kemampuan kognitif, anak juga belajar warna, kreativitas, dan imajinasi.
  • Bermain congklak melatih perkembangan kognitif anak dalam bidang strategi dan penggunaan otak sebelah kiri.

Dengan didasari pedoman teori Piaget ini, Realfoodfam jadi bisa lebih mudah mengidentifikasi tahapan tumbuh kembang anak. Untuk itulah dibutuhkan stimulus untuk merangsang keingintahuan mereka. Dukung juga si kecil dengan Program Realfood Stay Fit yang merupakan formula semi concentrated Realfood yang dirancang untuk si kecil. Kandungan Asam Amino Fenilalanin yang terkandung di dalam Realfood Stay Fit baik untuk membantu meningkatkan daya ingat anak.

 

Rekomendasi artikel lainnya terkait dengan “kecerdasan anak”

 

Sumber:

  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK216774/
  • https://www.verywellmind.com/piagets-stages-of-cognitive-development-2795457
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4800975/
  • Fischer, K. W., & Silvern, L. (1985). Stages and Individual Differences in Cognitive Development
  • https://www.jstor.org/stable/1129634?origin=crossref&seq=1

 

Artikel Lainnya
icon chat whatsapp
icon keranjang belanja
icon Email
icon chat web
Wa V2
closearrow-circle-o-downbars